Rabu, 18 Juni 2014

Review Hasil Presentasi

By Ramazayn   Posted at  07.01   Teori No comments
Review Perkuliahan
Saatnya Review

Memori Manusia
›Ada tiga bagian yang terdapat dalam otak manusia:
a.       cerebrum (bagian atas otak)
b.      cerebellum (benda kecil yang mengatur pusat susunan syaraf utama dan gerak tubuh kita)
c.       batang otak
Menurut para ahli anatomi syaraf dan ahli susunan kimia syarafneuron berfungsi melaksanakan pekerjaan utama otak, “merambatkan” getaran dari syaraf pancaindera yang tersebar di sekujur tubuh. Bagian itulah yang membuat manusia mampu mengingat dan menganalisa sesuatu.
Ingatan
Ingatan (memory) :
 Merupakan kemampuan untuk menerima dan memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali apa yang pernah dialami (remembering).
Istilah lain : 
Memasukkan (encoding), menyimpan (storage), menimbulkan kembali (retrieval).
Macam - Macam  Ingatan
1.       Sensory   memory
Sensory memory à tempat pemberhentian pertama kali, ketika informasi masuk memori.
Informasi tersebut diterima alat indera terutama suara dan image visual setelah stimulus visual, lalu disimpan secara cepat.
Visual sensory memory atau Iconic memory tempat penyimpanan informasi dari mata di otak,  akan hilang kira-kira dalam 1/2 detik
Walaupun sangat singkat, kita dapat memilih hal-hal yang relevan yang akan diteruskan ke tingkat ke dua memori yaitu short term memory untuk proses selanjutnya

Sensory memory mengacu pada kondisi awal, perekaman informasi sementara di sistem sensor.
Jenis sensory memory :
-          Iconic memory yang mengacu pada keberadaan informasi pengelihatan
-          Echoic memory merupakan istilah untuk fenomena yang sama, namun dialami oleh indra pendengaran.
Sistem sensory memory umumnya berfungsi di luar kesadaran dan menyimpan informasi untuk waktu yang singkat.
Iconic memory hanya bertahan kurang dari satu detik, dan echoic memory bertahan lebih lama yaitu sekitar 3-4 detik.
Informasi dalam sensory memory akan hilang kecuali informasi tersebut menarik perhatian kita dan memasuki areal working memory. 

Iconic  memory
        »Sifatnya transitori (tidak menetap)
        »Bertahan hanya ½ detik
        »Akurat
        »Mempunyai kapasitas untuk menjumlah informasi
        »Bersifat independen (bebas) dari kontrol individu
»Kapasitas penyimpanan kira-kira 9 item. 

2.       Short term memory 
Kemampuan otak untuk menyimpan informasi secara sementara
Working memory yang saat ini lebih banyak digunakan untuk sistem yang lebih luas, yaitu penyimpanan, manipulasi, dan penggunaan informasi yang tersimpan itu sendiri.
Working memory memiliki keterbatasan yang mendasar, yaitu hanya dapat menyimpan informasi yang terbatas pada suatu waktu.
Secara individu kapasitas working memory sesorang berbeda satu dengan lainnya. Kapasitas working memory juga bervariasi terhadap umur, seorang anak yang tumbuh dewasa akan berkembang juga kapasitas working memory-nya dan kemudian menurun kembali di usia tua. Kapasitas working memory seringkali dikaitkan dengan intelegensitas (sebagaimana yang diukur dalam uji kecerdasan). Sehingga semakin besar kapasitas working memory sesorang, maka semakin cerdaslah dia.

Misal  : saat seseorang memghitung 35x6 mungkin orang itu akan mengalikan 5 dengan 6 dulu dulu baru kemudian 30 x 6.
›Untuk membentuk perhitungan seperti diatas diperlukan penyimpanan sementara untuk digunakan kembali kemudian.
›Kapasitas memori kecil/terbatas 

3.       LONG  TERM  MEMORY 
Pada umumnya digunakan untuk menggambarkan sistem dalam otak yang menyimpan banyak informasi yang secara relatif memiliki dasar yang berkelanjutan, seperti ketika sesorang bermain bola, ingatan akan menu makan siang kemarin, siapa saja mantan pacar, menyanyikan lagu favourit, informasi semacam itu dan keterampilan, disimpan di dalam long-therm memory.
Memori ini diperlukan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu lama.
Merupakan tempat menyimpan seluruh pengetahuan, fakta informasi, pengalaman,  urutan perilaku, dan segala sesuatu yang diketahui. 
Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.
Ingatan yang telah tersimpan dalam ingatan jangka panjang bisa anda munculkan kembali saat Anda menginginkannya.
Misal : Ketika seseorang yang anda sayangi pergi dari sisi anda, mungkin anda akan mengingat kembali kenangan-kenangan yang tersimpan dalam memori jangka panjang Anda. Anda dapat mengingat dengan sangat detil bahkan tanpa Anda sadari bahwa Anda telah menyimpan informasi tersebut. Anda mungkin mengenang tempat di mana Anda menghabiskan waktu dengan orang tersebut dengan mengingat pemandangan, bau dan bahkan perasaan dengan akurasi yang mengejutkan. 

Perkembangan  teori  memori
Short term memory atau working memory hanya mampu menyimpan informasi relatif sedikit (max. 7 digit) dan dalam waktu yang relatif pendek. Misalnya nomor telpon yang baru kita peroleh dari buku telpon
Prospective memory : menyimpan informasi tentang apa yang harus kita kerjakan pada waktu-waktu tertentu. Short term memory dan prospective memory kekuatannya menurun seiring dengan bertambahnya umur.
Episodic memory : menyimpan peristiwa-peristiwa yang secara pribadi kita alami. Mis : dengan siapa kita main catur.
Implicit memory : menyimpan peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata Misalnya : cara mengendarai sepeda.
Semantic memory : menyimpan pengetahuan umum yang abstrak misalnya arti kata-kata. Implicit dan semantic relatif tidak mudah hilang walaupun umur sudah tua. 
Flasbulb memory : tipe memori yang sifatnya khusus, yang terbentuk ketika suatu peristiwa singkat yang sifatnya “surprise” dan mengagetkan tinggal dalam memori dan dengan jelas menggambarkan detail dan konteks dari peristiwa tersebut. 
KELUPAAN/LUPA
-          Teori Atropi : atau sering disebut dengan teori disense atau teori disuse. Lupa disebabkan karena jejak-jejak ingatan (memory traces) lama tidak ditimbulkan kembali, sehingga memory traces makin lama makin mengendap.

-          Teori Interferensi : lupa disebabkan karena memory traces bercampur satu sama lain. Interferensi proaktif : informasi lama mengganggu informasi baru. Interferensi retroaktif : informasi baru mengganggu informasi lama  

Sabtu, 07 Juni 2014

Cerita Kepribadian

By Ramazayn   Posted at  07.32   Psikologi No comments
Kepribadian Plegmatis
Plegmatis
Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.

Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.

Kepribadian memang merupakan salah satu topik yang menarik bagi saya. Latar belakang Orangtua saya yang mengharuskan kami berpindah-pindah provinsi membuat saya berinteraksi dengan berbagai karakter dan kepribadian orang di lingkungan yang berbeda-beda. Selain itu, riwayat pendidikan saya dari SD hingga di bangku Kuliah yang notabene selalu lari dari rayon, membuat saya harus bersosialisasi dari nol kembali dan bertemu dengan orang-orang baru yang belum saya kenal.
Menurut saya mengamati dan mempelajari kepribadian orang itu sangat penting, agar kita bisa menyesuaikan diri bagaimana seharusnya
kita menunjukkan sikap terhadap orang tersebut. Ada tipe orang yang suka bercanda, sebaiknya kita jangan terlalu serius dengannya karena akan membuatnya bosan. Sebaliknya, ketika berhadapan dengan orang yang tipe serius pembawaannya kita harus menjaga sikap dan tutur kata. Itulah kunci apabila kita ingin dapat menyesuaikan diri pada lingkungan sosial.

Hippocrates adalah bapak ilmu kedokteran, dia membahas manusia dari titik tolak konstitusional. Terpengaruh oleh kosmologi empedokles, yang mengatakan bahwa alam semesta isinya tersusun dari empat unsur dasar yaitu; tanah, air, udara, dan api. Dengan sifat-sifat yang didukungnya yaitu; kering, basah, dingin, dan panas. Dari situlah, akhirnya Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri seseorang terdapat empat macam sifat-sifat yang didukung oleh keadaan konstitusional berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh orang tersebut, antara lain:
  • Sifat kering terdapat dalam chole (koleris)
  • Sifat basah terdapat dalam melanchole (melankolis)
  • Sifat dingin terdapat dalam phegma (plegmatis)
  • Sifat panas terdapat dalam sanguis (sanguins)
1.     Tipe Kepribadian Kolerik/Chole
        Seseorang yang memiliki tipe kepribadian ini sangat berorientasi pada pekerjaan, dan tugas. Dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihan dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kekurangannya kolerik kurang bisa merasakan perasaan orang lain, belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain sangat minim, karena tipe perasaannya kurang bermain.

2.     Tipe Kepribadian Melancholis/melanchole
        Sering dengar kata melancholis? apa yang terlintas dalam pikiran anda? seseorang yang lemah lembut? yaa anda benar. Tipe ini sangat terobsesi dengan karya yang paling bagus, sempurna, mengerti estetika keindahan hidup ini dan perasaannya sangat kuat, dan sensitif. Kelembahan tipe melankolik adalah sangat mudah dikuasai oleh perasaannya. Tidak mudah bagi seorang melankolis untuk bangkit, senang, atau tertawa.

3.     Tipe Kepribadian Flegmatis/phegma
        Tipe Flegmatik adalah orang yang cenderung tentang dan dari luar cenderung tidak bermosi. Tipe ini mampu menyembunyikan emosinya, misalnya, sedang senang, sedih, dll. Orang ini cukup menguasi dirinya dengan cukup baik dan introspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnnya. Dia adalah seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan juga seorang pengkritik yang berbobot. Akan tetapi, kelemahan dari tipe ini cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah. Hal ini membuat tipe ini menjadi orang yang kurang mau berkorban bagi orang lain.

4.     Tipe Kepribadian Sanguin/sanguis
        Tipe sanguis mempunyai banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dan bisa membuat lingkungannya gembira, senang, Namun kelembahan dari tipe ini cenderung impulsive (bertindak sesuai emosi atau keiinginannya). Orang-orang dengan tipe ini mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungannya dan ransangan-ransangan dari luar dirinya. Tipe sanguin kurang dapat menguasi dirinya. Dalam bukunya Tim LaHaye, orang-orang dengan tipe sanguin cenderung mudah jatuh ke dalam percobaan, karena goadaan dari luat bisa begitu memikatnya.

Dulu saya pernah ikut tes temperamen di salah satu aplikasi Facebook, dan hasilnya adalah saya merupakan tipe kepribadian plegmatis. Setelah saya perhatikan, penjelasan tentang tipe kepribadian ini (baik kelebihan dan kekurangan) banyak kesamaan dengan diri saya.

Berikut Kekuatan dan Kelemahan Orang yang bertipe Plegmatis PLEGMATIS:
KEKUATAN:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
* Penengah masalah yg baik
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah
* Baik di bawah tekanan
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
* Rasa humor yg tajam
* Senang melihat dan mengawasi
* Berbelaskasihan dan peduli
* Mudah diajak rukun dan damai

KELEMAHAN:
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
* Takut dan khawatir
* Menghindari konflik dan tanggung jawab
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
* Terlalu pemalu dan pendiam
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
* Kurang berorientasi pada tujuan
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
* Tidak senang didesak-desak
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

"Daripada sibuk mengomentari kepribadian orang lain, lebih baik kita mengetahui tipe kepribadian kita sendiri sebagai bahan instropeksi." (Ramadan)


Minggu, 01 Juni 2014

Cerita Frustasi dan Motivasi

By Ramazayn   Posted at  06.31   Psikologi No comments
Frustasi
Frustasi
Frustasi 
        Frustasi adalah keadaan dimana seseorang sedang kalut, terlalu banyaknya masalah, tekanan ataupun lainnya, sehingga tidak dapat menyelesaikannya, yang hampir sama dengan stress, Akan tetapi tidak bisa  disamakan oleh pengertian putus asa. Akan tetapi dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan yang dialami seseorang, ketika keinginanya tidak dapat tercapai atautidak dapat terealisasikan atau bisa juga cita-cita atau keinginanya tidak dapat terwujud.

Motivasi
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama.  Kekuatan yang memberikan energi dan mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Keadaan internal yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dalam buku Educational Psychology oleh W John Santrock pada tahun 2004, berikut adalah pengertian motivasi dari berbagai perspektif dalam psikologi.

Baiklah, kali ini saya tidak akan membahas teori-teori yang berkaitan dengan frustasi ataupun motivasi karena materi ini sudah pernah dipresentasikan berkali-kali saat proses perkuliahan Pengantar Psikologi Umum. Saya akan membahas pengalaman hidup saya mengenai frustasi dan motivasi.
Setiap Orang pasti pernah minimal sekali dalam hidupnya mengalami yang namanya keadaan frustasi, termasuk saya sendiri. Saat itu merupakan transisi dari masa SMP ke SMA. Sewaktu SMP, saya sudah berkeinginan untuk memasuki salah satu SMA Negeri favorit di Medan, karena saya lihat alumninya banyak yang berprestasi dan itu membangkitkan gairah/passion saya untuk memasuki SMA Negeri tersebut.
Saya akui, sewaktu masa SMP saya kurang begitu maksimal dalam hal akademis, walaupun saya bisa bertahan tidak keluar dari peringkat 5 besar. Kemauan belajar sendiri tanpa disuruh atau hanya karena ada tugas turun drastis daripada sewaktu saya SD dulu. Selain saingan saya juga lumayan banyak, mereka juga masing-masing punya skill tersendiri yang membuat mereka menonjol daripada yang lain yang membuat saya sedikit minder.
Transisi dari SD yang saya benar-benar buku holic berubah drastis semenjak SMP. Saya mulai mengenal apa itu Games Online, saya menemukan teman-teman yang hobbynya sama dengan saya, yaitu menonton dan banyak lagi hal lainnya yang membuat saya merasa enjoy dan sedikit terlena sehingga tidak jarang saya menomor 2 kan akademis.
Tiba saat Ujian Nasional hamper dekat, saya mulai terkejut dimana semua orang bukannya sibuk belajar ataupun ikut les tambahan, tetapi saya malah mendengar desas desus mengenai kunci jawaban UN. Saya kaget mendengar hal tersebut, apakah benar kunci jawaban UN bisa tersebar begitu saja. Ketika saya mulai mengikuti perbincangan lebih dalam, ternyata latar belakang orangtua beberapa murid disitu bukanlah hal yang sulit untuk mendapatkan kunci jawaban Ujian Nasional. Yang membuat saya terkejut lagi, sekolah bahkan membiarkan hal tersebut hanya karena 1 alasan : supaya sekolah itu tidak malu ada muridnya yang tidak lulus. Supaya di cap sekolah 100 % lulus.
Saya yang benar-benar tidak tahu sama sekali dan masih polos saat itu pun akhirnya ikut-ikutan meminta bantuan kunci jawaban dari teman saya yang dapat karena saya merasa tidak percaya diri dan tidak mau mengambil resiko akan keidealisan saya. Ternyata, kunci jawaban yang ditawarkan pun bervariasi nilainya, ada yang rata2 sedang, hingga nilai sempurna. Tentu saja saya mendapatkan kunci jawaban yang biasa-biasa saja yang bermodalkan meminta dari teman.
Alhasil saat pengumuman, saya dinyatakan lulus dengan rata-rata yang menurut saya cukup tinggi dari rata-rata Try Out saya sendiri yaitu 8.40. Tetapi, rata-rata tersebut ternyata tidak ada apa-apanya, masih banyak yang diatas saya bahkan ada beberapa murid yang keseharian akademisnya buruk malah mendapatkan rata-rata 9.00. Saya mulai pesimis ketika syarat untuk masuk ke SMA Negeri yang saya icita-citakan tersebut berdasarkan nilai UN. Memang ada jalur ujian beberapa persen, tetapi disitu dijadikan komersalisasi atau istilahnya adalah sisipan. Dan alhasil, saya tidak diterima di SMA Negeri yang saya inginkan tersebut hanya karena patokan nilai UN yang bisa dikatakan tidak fair. Melihat beberapa teman saya yang saya tahu kemampuan akademisnya jauh dibawah saya, tetapi diterima di sekolah yang saya cita-citakan tersebut membuat saya kecewa dan frustasi.
Akhirnya, saya masuk ke SMAN 11 Medan, kembali lagi ke rayon sekitaran rumah saya di Tembung. Sekolah ini prestasinya biasa saja dan tidak difavoritkan kalau di kota Medan, kalau sekitaran Tembung memang cukup favorit. Semester pertama, saya tidak fokus dan masih konflik dengan diri saya sendiri. Saya memilih bermain-main saja, saya bahkan sempat berfikir,”untuk apa saya belajar capek-capek kalo nantinya bakal dapat kunci jawaban juga”.
Saat teman-teman SMP mengajak reunian, saya sebenarnya sangat malas. Pasti topik pembahasannya adalah seputaran SMA mana yang kita masuki. Disitulah muncul sebuah motivasi dari diri saya sendiri, mungkin sekarang saya tidak berada di sekolah yang difavoritkan, atau sekolah yang tidak terkenal dan dipandang sebelah mata. Tapi, nanti saya akan buktikan saat di bangku perkuliahan. Siapa sebenarnya yang benar-benar bisa survive.

Motivasi itulah yang membangkitkan saya kembali dari keterpurukan dan kefrustasian saya. Kalau menurut saya, motivasi intrinsic, atau dari dalam diri sendiri itu lebih kuat pengaruhnya daripada ekstrinsik atau dari orang terdekat. Seperti saya, berkali-kali orangtua saya menasehati semua sekolah itu sama, tetapi dulu saya tetap menolak pernyataan tersebut. Hingga muncul motivasi dari diri sendiri untuk bangkit.


Kamis, 29 Mei 2014

Cerita Masa Remaja

By Ramazayn   Posted at  06.43   Psikologi No comments
Masa Remaja
Remaja

Beberapa orang mengatakan masa-masa remaja adalah masa yang paling menyenangkan dan tidak akan terlupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, kita mulai berani mengekspresikan diri kita, bagaimana pendapat kita dan tidak jarang ingin diakui lebih hebat dalam suatu komunitas sehingga tidak jarang konflik antar remaja mewarnai fase ini. Tetapi, tidak jarang juga masa remaja menjadi suatu hal kenangan buruk yang tidak ingin kita ingat apabila kita mengacaukannya. Karena pada masa remaja cara berpikir kita sudah sedikit lebih maju dari kanak-kanak, bisa membedakan mana yang benar dan tidak benar walaupun seringkali remaja melakukan kesalahan juga. Karena, di masa remaja gejolak, hormon dan ketidakstabilan emosi meningkat. Apabila remaja tersebut tidak bisa mengendalikannya, maka akan berakhir menjadi kenakalan remaja.
Suardi (1986: 98) menyatakan remaja adalah masa perantara dari masa anak-anak menuju dewasa yang bersifat kompleks, menyita banyak perhatian dari remaja itu sendiri dengan orang lain, dan masa penyesuaian diri terdidik. Selain itu, masa ini juga adalah masa konflik, terutama konflik remaja dengan dirinya sendiri dengan remaja yang lain sehingga membutuhkan penanganan khusus yang menuntut tanggung jawab paripurna.
Mengenai ciri-ciri remaja tidak mesti dilihat dari satu sisi, tetapi dapat dilihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi usia, perkembangan fisik, phisikis, dan perilaku. Menurut Gayo (1990: 638-639) ciri-ciri remaja usianya berkisar 12-20 tahun yang dibagi dalam tiga fase yaitu; Adolensi diri, adolensi menengah, dan adolensi akhir. Penjelasan ketiga fase ini sebagai berikut:

1.        Adolensi dini
Fase ini berarti preokupasi seksual yang meninggi yang tidak jarang menurunkan daya kreatif/ ketekunan, mulai renggang dengan orang tuanya dan membentuk kelompok kawan atau sahabat karib, tinggah laku kurang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti perilaku di luar kebiasaan, delikuen,dan maniakal atau depresif. Hal-hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Sikap protes terhadap orang tua
Remaja pada usia ini cenderung tidak menyetujui nilai–nilai hidup orang tuanya, sehingga sering menunjukkan sikap protes atau berontak terhadap orang tua. Mereka berusaha mencari identitas diri dan sering kali disertai dengan menjauhkan diri dari orang tuanya. Dalam upaya pencarian identitas diri, remaja cenderung melihat kepada tokoh–tokoh di luar lingkungan keluarganya, yaitu : guru, figur ideal yang terdapat dalam film, atau tokoh idola.
Saya sendiri masih mengalami hal ini, seringkali saya dengan kedua orangtua saya berbeda pendapat. Apakah karena orangtua saya yang terlalu konservatif, overprotektif dan tidak percaya sepenuhnya kepada saya atau saya yang terlalu menuntut kebebasan.
b.    Preokupasi dengan badan sendiri
Tubuh seorang remaja pada usia ini mengalami perubahan yang cepat sekali. Perubahan ini menjadi perhatian khusus bagi diri remaja.
Di saat beranjak SMP, awalnya saya terkejut karena suara saya yang membesar, tumbuh bulu-bulu di bagian sensitif, “wet dream” dsb. Untungnya ada mata pelajaran biologi yang menjelaskan bahwasanya fase ini wajar dialami seseorang ketika beranjak remaja. Orangtua saya sangat tabu membicarakan hal-hal tersebut.
c.    Kesetiakawanan dengan kelompok seusia
Para remaja pada kelompok umur ini merasakan keterikatan dan kebersamaan dengan kelompok seusia dalam upaya mencari kelompok senasib. Hal ini tercermin dalam cara berperilaku sosial.
d.   Kemampuan untuk berfikir secara abstrak
Daya kemampuan berfikir seorang remaja mulai berkembang dan dimanifestasikan dalam bentuk diskusi untuk mempertajam kepercayaan diri
e.    Perilaku yang labil dan berubah–ubah
Remaja sering memperlihatkan perilaku yang berubah–ubah. Pada suatu waktu tampak bertanggung jawab, tetapi dalam waktu lain tampak masa bodoh dan tidak bertanggung jawab. Remaja merasa cemas akan perubahan dalam dirinya. Perilaku demikian menunjukkan bahwa dalam diri remaja terdapat konflik yang memerlukan perhatian dan penanganan yang bijaksana.
2.        Adolensi menengah
Fase ini memiliki umum: mulai tertarik terhadap seseorang bahkan teman yang sering kita ajak berinteraksi, mulai meningkat pentingnya, fantasi dan fanatisme terhadap berbagai aliran, misalnya, mistik, musik, dan lain-lain. Menduduki tempat yang kuat dalam perioritasnya, politik dan kebudayaan mulai menyita perhatiannya sehingga kritik tidak jarang dilontarkan kepada keluarga dan masyarakat yang dianggap salah dan tidak benar, seksualitas mulai tampak dalam ruang atau skala identifikasi, dan desploritas lebih terarah untuk meminta bantuan.
3.        Adolensi akhir
Masa ini remaja mulai lebih luas, mantap, dari dewasa dalam ruang lingkup penghayatannya .Ia lebih bersifat ‘menerima’dan ‘mengerti’ malahan sudah mulai menghargai sikap orang/pihak lain yang mungkin sebelumnya ditolak. Memiliki karier tertentu dan sikap kedudukan, kultural, politik, maupun etikanya lebih mendekati orang tuanya. Bila kondisinya kurang menguntungkan, maka masa turut diperpanjang dengan konsekuensi .imitasi, bosan, dan merosot tahap kesulitan jiwanya. Memerlukan bimbingan dengan baik dan bijaksana, dari orang-orang di sekitarnya. Ciri-cirinya dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Kebebasan dari orangtua
Dorongan untuk menjauhkan diri dari orang tua menjadi realitas. Remaja mulai merasakan kebebasan, tetapi juga merasa kurang menyenangkan. Pada diri remaja timbul kebutuhan untuk terikat dengan orang lain melalui ikatan cinta yang stabil.
b.    Ikatan terhadap pekerjaan dan tugas
Sering kali remaja menunjukkan minat pada suatu tugas tertentu yang ditekuni secara mendalam. Terjadi pengembangan akan cita–cita masa depan yaitu mulai memikirkan melanjutkan sekolah atau langsung bekerja untuk mencari nafkah
c.    Pengembangan nilai moral dan etis yang mantap
Remaja mulai menyusun nilai–nilai moral dan etis sesuai dengan cita – cita.
d.   Pengembangan hubungan pribadi yang labil
Adanya tokoh panutan atau hubungan cinta yang stabil menyebabkan terbentuknya kestabilan diri remaja
e.    Penghargaan kembali pada orang tua dalam kedudukan yang sejajar
Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.

 Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
1.        Periode masa puber usia 12-18 tahun
a.    Masa prapubertas        : peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Ciri-cirinya:
1)   Tidak suka diperlakukan seperti anak kecil
2)   Mulai bersikap kritis
b.    Masa pubertas : masa remaja awal. Ciri-cirinya:
1)      Mulai cemas dan bingung terhadap perubahan fisiknya
2)      Memperhatikan penampilan
3)      Sikapnya tidak menentu/plin-plan
4)      Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
c.    Masa akhir pubertas : peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Ciri-cirinya:
1)      Pertumbuan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaannya psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2)      Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.

2.        Periode remaja adolesen usia 19-21 tahun
a.       Mulai menyadari akan realita
b.      Sikapnya mulai jelas tentang hidup
c.       Mulai nampak bakat dan minatnya
Berdasarkan uraian mengenai remaja dari segi psikis, dapat disimpulkan bahwa : Ciri perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh karena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.
Keadaan emosi pada masa remaja masih labil karena erat dengan keadaan hormon. Suatu saat remaja dapat sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis. Kestabilan emosi remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan masyarakat yang akhirnya mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja. Bertambahnya ketegangan emosional yang disebabkan remaja harus membuat penyesuaian terhadap harapan masyarakat yang berlainan dengan dirinya.
Menurut Mappiare (dalam Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.

Back to top ↑
Connect with Us

What they says

© 2013 Cerita Random. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.